Monday, February 11, 2013

Ibu, bagaimana memilih pasangan hidup yang baik itu?



Picture from : DIDIK

Suatu hari, seorang anak gadis berkata kepada ibunya, "Ibu, bagaimana memilih pasangan hidup yang baik itu?"

Si ibu dengan bijak menjawab, "Anakku, jangan kau menikahi seorang lelaki hanya karena ketampanannya, kelak akan kau akan kecewa, karena ia pasti akan tua. Jangan pula memilihnya hanya karena dia dikagumi banyak wanita, karena kau belum tahu apa kekurangannya. Tidak pula karena kekayaannya, karena kekayaan tidak pernah kekal. Tapi pilihlah dia karena akhlaknya yang mulia. Pilihlah dia karena imannya."

"Lalu bagaimana ingin tahu dirinya akan membuatku bahagia, padahal belum tentu dia kaya, tampan atau terkenal?" tanya sang anak.

"Nak, ketampanan dan kecantikan ada pada hati yang merasa. Kaya ada pada hati yang Qonaah. Terkenal di hadapan manusia belum tentu mulia di hadapan-Nya." jawab sang ibu.

Si anak gadis itu dengan serius mendengarkan penjelasan dari ibunya, sementara sang ibu melanjutkan untaian kata-kata nasehat, "Perbaikilah akhlakmu, perbaharuilah niatmu, kuatkan imanmu, perbanyak amalmu. Lalu jika hari itu tiba, terimalah pemuda yang berani melamarmu. Setidak-tidaknya dia berniat baik kepadamu, bukan menggodamu. Namun karena keinginannya menjaga kesucian cinta. Kau tentu boleh memilih, namun ingatlah, jika kau alihkan cintamu pada harta, ketampanan, juga keturunannya, maka kamu pasti akan kecewa. Karena boleh jadi itu hanya topeng darinya."

"Istikharahlah. .. Dan jika pilihanmu mantap padanya, menikahlah karena itu adalah sebaik-baik penawar fitnah. Kau akan rasakan kebahagiaan karena memenangkan Allah dalam pilihanmu."

"Rasakanlah cinta bersamanya, kelebihannya membuatmu tersenyum bahagia, kekurangannya akan menjadi bibit-bibit cinta diantara kalian. Karena kalian tercipta untuk saling mengisi, saling memperbaiki akhlak."

"Semangatilah langkahnya, kukuhkan semangat juangnya. Arungi bahtera rumah tangga dengan senyum CERIA. Kelak, didiklah anak-anakmu untuk menjadi pejuang yang setia pada cinta yang mulia. Lahirkan keturunan yang kuat tauhidnya, mulia akhlaknya, kukuh imannya. Dan kelak, ibumu ini akan bahagia menimang cucu seorang pejuang sejati.. Insya Allah.." ujar si ibu menutup untaian kata-kata nasehatnya.
________________________________________________________________________________

"Tutupilah kelemahannya dengan kekuatanmu, dan tutupilah kelemahanmu dengan kekuatannya"

Konklusinya : Pasangan yang kita hajati itu berbalik kepada diri kita sendiri. Sekiranya kita mahukan yang soleh, kita terlebih dahulu perlu mengislahkan diri, sekiranya kita mahukan yang baik, kita perlu berusaha menjadi yang baik dahulu. Dalam usaha untuk menjadi yang terbaik itu, kita juga berhadapan dengan halangan demi halangan, kesilapan demi kesilapan, kerana kita adalah manusia. Tetapi, yang penting kita ada usaha untuk menjadi yang lebih baik, kerana dalam setiap perubahan yang ingin kita lakukan, kita tidak ingin melakukannya untuk diperlihatkan kepada manusia, dan untuk memuaskan hati manusia, tetapi kita ingin menjadi yang lebih baik untuk Allah, dan meyakini bahawa syurga ALLAH itu hanya untuk orang yang baik. Jika kita baik pada pandangan Allah, nescaya kita juga adalah baik pada pandangan manusia, kerana kita memandang sesuatu dari kaca mata Rabbani. Cuma, kadangkala kita tidak nampak di mana kekurangan kita, kerana itu Allah hadirkan insan lain untuk melengkapkan kehidupan, saling ingat memperingati. Berlapang dadalah .. ^__^..

Sabar itu Indah. Semoga perkongsian ini bermanfaat buatku, dan sesiapa sahaja yang diizinkan Allah membacanya. In sha Allah

Hamba Yang Mengharapkan Rahmat & Maghfirah,

Penawarhati90
9.02 am,
1 Rabiul Akhir 1434 H bersamaan 12 Februari 2013
Universiti Sains Malaysia,
Pulau Pinang.

  

No comments:

Post a Comment